Jumat, 29 Juni 2012

Home » Sejarah dan ulasan mengenai Pizza

Sejarah dan ulasan mengenai Pizza






Pizza, makanan khas Italia yang terbuat dari roti tipis bundar dengan taburan berbagai macam bahan makanan diatasnya. Siapa sangka pizza jaman dahulu adalah makanan untuk orang miskin?


Pizza telah dikenal oleh masyarakat zaman kuno yang tentunya berbentuk lain dengan pizza zaman sekarang. Makanan ini berasal dari makanan kaum miskin yang dibuat dengan bahan-bahan yang sederhana dan mudah didapatkan seperti : Tepung terigu, Minyak, Garam dan Ragi. Sejarah Pizza dimulai pada saat orang Yunani yang pertama membuat adonan roti berukuran besar, bulat dan rata dengan menggunakan campuran rempah-rempah dan minyak. Pada saat itu tomat belum ditemukan, sehingga tidak dipergunakan dalam campuran tersebut.


Tahun 1843, Alexandre Dumas, menjelaskan keragaman pelengkap pizza. Bulan Juni 1889, untuk menghormati Ratu Italia, Margherita dari Savoy, koki Neapolitan Raffaele Esposito menciptakan "Pizza Margherita", sebuah pizza yang dipenuhi tomat, keju mozzarella dan basil, untuk menggambarkan warna bendera Italia.

Pada tahun 1800-an Pizza dengan saus tomat dibawa oleh imigran Italia yang umumnya berasal dari Napoli ke New York, Amerika Serikat. Pada periode itu juga di Napoli, Italia muncul “Perkimpoian Bersejarah” Pizza yang ditaburi Mozzarella.

Seorang pembuat pizza, Raffaele Esposito dan istrinya menyiapkan sebuah pizza untuk dipersembahkan pada Ratu Margherita Savoia, istri Kaisar Italia Umberto I. Yang dibuat atas permintaan Yang Mulia. Sebuah Pizza yang melambangkan Bendera Italia: Merah yaitu saus tomat, putih yaitu mozzarella dan hijau yaitu daun basil. Dikarenakan Sang Ratu begitu suka dengan cita rasa pizza sederhana ini maka dinamakan Pizza Margherita.



Demikianlah sepenggal kisah tentang makanan yang disebut Pizza, makanan yang dulunya adalah makanan kaum miskin yang pada perkembangannya sekarang telah mendunia dengan cita rasa khas-nya, bahkan konon di Italia sendiri saat ini terdapat kurang lebih 30,000 kedai Pizza.


Sekarang, pizza menjadi makanan favorit orang-orang kota, orang-orang kaya, dan menjadi tren gaya hidup. Bagi saya pizza adalah makanan mewah, bisa dikatakan demikian karena tidak tiap minggu atau bulan saya makan pizza. Kecuali ada anugra (anu gratisan) seperti acara traktiran atau menang taruhan. Lihatlah di mall-mall di Indonesia (khususnya Makassar), orang-orang mengantri demi membeli dan mencicipi sepotong pizza. Harganyapun lumayan mahal, paling murah 20 ribuan per pieces. Seperti hari ini, saya berkewajiban mentraktir istri tersayang karena kalah taruhan, Belanda kalah di Euro 2012. Bayarannya tak tanggung-tanggung, 200 ribuan lebih untuk sekali makan, sepuluh persen dari gaji saya. Jadilah saya mesti ngutang, bayar dengan kartu kredit, walaupun diskonnya lumayan (20%), tetap saja mahal.


Walaupun termasuk junk food dan makanan berbahaya dikonsumsi berlebihan, orang-orang tak kapok mengkonsumsinya. Selain menggemukkan, ternyata pizza adalah sumber garam yang membahayakan. Meski rasa asinnya tidak mencolok, kadar garamnya sangat tinggi. Bahkan, penelitian terbaru mengungkap bahwa asinnya pizza mengalahkan kadar garam di laut Atlantik.


Consensus Action on Salt and Health (CASH) dan Association of London Environmental Health Managers (ALEHM) mengadakan survei tentang kandungan garam dalam pizza di Inggris. Peneliti menganalisis 199 buah pizza margherita dan pepperoni takeaway, dari restoran, dan yang dijual di pasar swalayan.


Angka mengejutkan pun diperoleh. Berdasarkan berita yang dilansir The Telegraph, pepperoni pizza dari restoran Adam & Eve di London mengandung 2.73 gram garam per 100 gram pizza. Sebagai perbandingan, per 100 gram air laut Atlantik saja hanya terdiri dari 2.5 gram garam.


Kandungan garam tertinggi terdapat pada pizza takeaway. Setengah dari jumlah pizza yang disurvei mengandung garam sebanyak jumlah rekomendasi harian, yaitu 6 gram. Dibanding pizza yang dijual di supermarket, pizza takeaway mengandung garam 2.5 kali lebih banyak. Tak hanya itu, sebanyak 84% pizza takeaway juga mengandung lemak trans.


Departemen kesehatan Inggris membuat target untuk dicapai pada akhir 2012 ini, yaitu maksimal 1.25 gram garam per 100 gram pizza. Sayang, hanya 16% pizza takeaway yang sesuai aturan tersebut. Sementara itu, tiga dari empat pizza supermarket telah mematuhi kebijakan ini.


Meski kadar garamnya lebih sedikit dibanding pizza takeaway, pizza dari supermarket masih dianggap tidak sehat. Berdasarkan survei, tidak ada pizza swalayan yang rendah garam, lemak, atau lemak jenuh.


“Perbandingan pizza dengan air laut digunakan agar konsumen sadar akan jumlah garam yang sangat besar dalam makanan,” ujar Profesor Graham MacGregor, ketua CASH. Menurut pria ini, pemerintah kurang memerhatikan jumlah garam dalam sektor takeaway.


“Garam bisa mempertinggi tekanan darah dan menyebabkan stroke. Mengurangi asupan garam dapat menyelamatkan ribuan orang dari bahaya penyakit tersebut,” jelas Profesor Graham.


Menanggapi temuan ini, pihak restoran Adam & Eve berterima kasih kepada CASH. “Kami tidak sadar akan tingginya kadar garam dalam pizza kami akibat kombinasi bahan-bahan tradisional tertentu,” tutur Gareth Leakey, manajer restoran tersebut. Merekapun mengubah resep dan meminta pemasok mengurangi kadar garam agar sesuai dengan jumlah yang disarankan.


Survei ini diselenggarakan setiap tahun sebagai bagian dari Salt Awareness Week. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya asupan garam yang berlebihan.




Bagaimana, masih suka makan pizza berlebihan??
Dari berbagai sumber di internet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar