Jumat, 11 Januari 2013

Home » » Contoh Tesis

Contoh Tesis


Penelitian

PENGARUH METODE MENGAJAR DAN INTENSITAS ASESMENT GURU TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA BIDANG STUDI PAI (STUDI EX POST FACTO DI KELAS 1 SDN 1 POASIA KOTA KENDARI TAHUN 2011)

LA ODE ANHUSADAR

ABSTRACT

The purpose of this study was to determine whether students 'field of study is influenced by the Islamic Education teachers' teaching methods and intensity of teacher assessments in class 1 SDN 1 Poasia Kendari. Study with a sample of 40 people. This research used Ex Post Facto and analysis of descriptive and inferential data. Descriptive analysis is used to present data in the form of histograms, graphs, calculation of mean, median, mode, standard deviation, and the theoretical range of each variable. Inferential analysis is then performed to test the hypothesis through the analysis of variance (ANAVA) with two factors. The study analyzed the data using descriptive and inferential. The results indicate that there are significant differences in the stimulation of teaching methods of teachers using the method of administration tasks and methods of lecture, there were no differences in the method of administration tasks through the lecture method of assessment of high intensity, there is no difference in the method of administration tasks through the lecture method of assessment of low intensity and there is no interaction effect of teachers' teaching methods and intensity of assessment of learning outcomes of students in class 1 SDN 1 Poasia Kendari.



PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan anak usia dini memiliki peran sangat penting dalam pengembangan sumber daya manusia. Anak merupakan makhluk individu yang sejak lahir telah membawa berbagai potensi (fisik, psikososial, bahasa, dan intelegensi). Seluruh potensi yang dimiliki anak tersebut baru akan berkembang apabila mendapat pengaruh dari lingkungan dimana anak itu berada. 
Pendidikan yang ada di Indonesia pada umumnya merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk dapat memberantas kebodohan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan diharapkan dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan bangsa dan memiliki keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta menjadi warga Negara yang berakhlak mulia serta bertanggunga jawab.
Dalam mencapai tujuan Pendidikan Nasional tersebut, maka Pendidikan Anak Usia Dini sangat berperan penting dalam rangka memberikan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan belajar anak secara menyeluruh serta menjadikannya pandangan hidup demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di masa yang akan datang. Pendidikan anak usia dini yang baik dan tepat dibutuhkan anak untuk menghadapi masa depanPendidikan anak usia dini akan memberikan persiapan anak menghadapi masa-masa ke depannya, yang paling dekat adalah menghadapi masa sekolah. Masa Usia Dini merupakan masa yang amat penting bagi keseluruhan perkembangan seorang manusia. Masa ini sering disebut sebagai usia emas dimana anak usia dini 0 – 8 tahun, mudah menyerap dan meniru apa saja yang ia lihat, ia dengar dan ia rasakan.
Pada masa ini, perkembangan yang meliputi berbagai aspek dalam diri seorang anak perlu menjadi perhatian agar tercapai perkembangan yang optimalDalam hal ini, proses pembelajaran sangat menunjang bagi tercapainya tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Metode yang dipilih harus relevan dengan materi yang akan disampaikan. Sehingga pelajaran yang disampaikan guru dapat dipahami oleh siswa secara tuntas. Oleh karena itu, seorang guru dituntut untuk dapat menerapkan metode mengajar dan asesment yang rutin dalam setiap proses pembelajaran. Guru  harus mampu menciptakan suasana yang kondusif terhadap belajar siswa. Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak merasa jenuh dan bosan pada saat menerima materi yang disampaikan. Ketika siswa telah memiliki kemauan dalam belajar, maka materi yang disampaikan tersebut akan dapat dikuasai, dipahami dan dihayati serta dapat diamalkan dalam kehidupannya. Ini merupakan suatu keberhasilan yang dapat dinilai secara perorangan maupun kelompok melalui asesment.
Program pendidikan yang utuh mencakup perencanaan, pelaksanaan dan penilaian (assesmen). Pada lembaga pendidikan anak usia dini bentuk perencanaan terdapat pada kurikulum, konsep sampai metode yang akan dilaksanakan direncanakan secara matang dan sistematis sampai dengan pelaksanaannya pada kegiatan sehari – hari pada lembaga pendidikan anak usia dini. Untuk mengetahui sejauh mana perkembangan anak, apakah sudah sesuai dengan tujuan yang diharapkan dan apakah sudah meningkatkan perkembangan dan pertumbuhan anak secara optimal, maka pada anak perlu diadakan sebuah asesmen yang berkesinambungan. Asesmen merupakan proses pengumpulan informasi secara sistematis sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan.
Namun kondisi saat ini, masih ada lembaga-lembaga yang bertanggung jawab akan pendidikan anak usia dini yang belum memahami pentingnya penggunaan metode mengajar yang tepat dan dilakukannya asesmen secara rutin serta juga belum memahami rambu – rambu prosesmetode mengajar dan assesmen yang tepat dan sesuai. Hal tersebut sungguh mengkhawatirkan mengingat dengan metode mengajar yang baik siswa pun akan merasa nyaman mengikuti proses belajar mengajar dan mengingat tujuan asesmen adalah mengukur, mendiagnosa, keberhasilan program pengembangan anak sehingga dapat mempengaruhi hasil belajar siswa.
 Metode mengajar dan asesmen seharusnya dilakukan sebagai bahan bagi guru untuk menyusun laporan kepada orang tua anak dan memantau perkembangan anak sehingga bisa digunakan untuk menyempurnakan perencanaan program pembelajaran selanjutnya, serta juga melakukan langkah-langkah yang tepat jika ternyata hasil belajar siswa yang tidak sesuai dengan harapan serta pola perkembangan serta pertumbuhan pada umumnya. Tentu saja hal ini disebabkan karena kurangnya kesadaran guru akan pentingnya metode mengajar dan asesment yang dilakukan oleh guru bagi peningkatan hasil belajar siswa. Semakin sering penggunaan metode mengajar yang membuat siswa menjadi aktif dan dilakukan  asesment oleh guru maka semakin baik pula hasil belajar yang akan diraih oleh siswa. Oleh karena itu, kondisi ini memberi inspirasi khusus bagi penulis untuk melakukan penelitian tentang Pengaruh Metode Mengajar dan Intensitas Asesment Guru Terhadap Hasil Belajar Siswa bidang studi Pendidikan Agama IslamKelas 1 di SDN 1 Poasia Kota Kendari (studi ex post facto di kelas 1 SDN 1 Poasia kota Kendari tahun 2011).
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, yang telah diuaraikan tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini  adalah:
1.      Apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa bidang studi Pendidikan Agama Islam kelas 1 di SDN 1 Poasia Kota Kendari  dengan menggunakan metode pemberian tugas dan metode ceramah?
2.      Apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa bidang studi Pendidikan Agama Islam kelas 1 di SDN 1 Poasia Kota Kendari dengan menggunakan metode pemberian tugas dan metode ceramah melalui intensitas asesmen yang tinggi?
3.      Apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa bidang studi Pendidikan Agama Islam kelas 1 di SDN 1 Poasia Kota Kendari dengan menggunakan metode pemberian tugas dan metode ceramah melalui intesitas asesmen yang rendah?
4.      Apakah terdapat pengaruh interaksi metode mengajar dan intensitas asesmen terhadap hasil belajar siswa bidang studi Pendidikan Agama Islam kelas 1 di SDN 1 Poasia Kota Kendari?
Hasil penelitian metode mengajar dan Intensitas Asesment Guru Terhadap Hasil belajar Siswa bidang studi Pendidikan Agama Islam di SDN 1 Poasia Kota Kendari dapat berguna,  antara lain:
  1. Secara Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan ilmu khususnya mengenai metode mengajar guru dan intensitas asesment sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa bidang studi Pendidikan Agama Islam serta menjadi bahan masukan bagi mereka yang berminat untuk menindaklanjuti hasil penelitian ini.

  1. Secara Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan maupun informasi pada Sekolah Dasar Negeri 1 Poasia Kota Kendari dan beberapa lembaga-lembaga pendidikan yang setingkat tentang metode mengajar guru dan intensitas asesment guru terhadap hasil belajar siswabidang studi Pendidikan Agama Islam.

TINJAUAN PUSTAKA 
 Hakikat Hasil Belajar
Anni Catharana (2004:4) mengemukakan bahwa: “hasil belajar adalah perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar”. Hasil belajar menurut NanaSudjana (2010:3) adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas yang mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. Selanjutnya menurut Horward Kingsley (Nana Sudjana, 2010:22), hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Dalam pengertian yang lain dikemukakan bahwa, (Hamid Hasan dan Aziz Wahab:1986:245) “hasil belajar merupakan segala sesuatu yang menjadi milik siswa sebagai akibat dari kegiatan belajar yang dilakukannya”.  Winkel (1999:102) mengatakan bahwa hasil belajar adalah “satu ukuran tingkat keberhasilan siswa setelah menjalani proses belajar”. Soekartawi (1995:62) melihat bahwa: Hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran, atau sejauh mana perubahan tingkah laku yang terjadi setelah proses pembelajaran harus melalui evaluasi belajar. Hal ini dapat dilakukan dengan cara ujian tertulis dan ujian lisan atau gabungan antara keduanya.
Menurut pandangan Gagne (Dimyati dan Mudjiono2010:11-12) mengemukakan bahwa: hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh dari proses belajar yang dapat dikategorikan kedalam lima macam yaitu: (1) informai verbal (verbal invormation) adalah kemampuan seseorang untuk menerangkan pikirannya dalam bentuk bahasa, baik secara lisan maupun tertulis, (2) keterampilan intelektual (intelectual skills), yaitu kemampuan seseorang untuk membedakan, mengabstrasikan suatu objek, menghubungkan konsep sehingga menghasilkan suatu pengertian serta memecahkan suatu persoalan, (3) strategi kognitif (cognitive strategiies), yaitu kemampuan seseorang untuk dapat mengatur dan mengarahkan aktifitas mentalnya sendiri dalam memecahkan persoalan yang dihadapinya, (4) sikap (attitude), yaitu kemampuan yang dimiliki seseorang berupa kecenderungan dalam menrima dan menolak suatu objek berdasarkan penilaian atas objek itu dan (5) keterampilan motorik (motor Skills) adalah kemampuan seseorang untuk melakukan serangkaian gerakan jasmani  dan anggota badan secara terpadu dan terkoordinasi.
Briggs (Leslie J. Briggs:1979:149memberikan pengertian bahwa hasil belajar adalah seluruh kecakapan dan segala hal yang diperoleh melalui proses belajar mengajar di sekolah yang dinyatakan dengan angka dan diukur dengan menggunakan tes hasil belajar. Senada dengan pendapat tersebut, Dimyati dan Mudjiono (2010:20) mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar. Hasil belajar tersebut terjadi berkat evaluasi guru. Hasil belajar dapat berupa dampak pengajaran dan dampak pengiring. Kedua dampak tersebut bermanfaat bagi guru dan siswa.
Dari pendapat diatas dapat diasumsikan bahwa hasil belajar adalah suatu kemampuan atau keterampilan serta hasil  yang dimiliki oleh siswa setelah mengalami proses belajar

B.       Hakikat Metode Mengajar
a.      Metode Ceramah
Metode ceramah ini sering digunakan dalam setiap penyajian materi dan metode ini termasuk metode yang paling umum digunakan oleh guru-guru dari tingkat pendidikan yang paling rendah hingga tingkat pendidikan yang peling tinggi. Metode ini merupakan cara mengajar dengan menyajikan fakta atau ide secara lisan, baik dengan atau tanpa alat peraga pandang dengar.
Metode ceramah (Armai Arief: 2002:135-136) adalah cara menyampaikan sebuah materi pelajaran dengan cara penuturan lisan kepada siswa atau khalayak ramai. Adapun menurut M. Basyiruddin Usman (2006:34) yang dimaksud dengan metode ceramah adalah“teknik penyampaian pesan pengajaran yang sudah lazim disampaikan oleh para guru di sekolah.  Ceramah diartikan sebagai suatu cara penyampaianbahan secara lisan oleh guru bilamana diperlukan. Pengertian senada juga diungkapkan oleh Mahfuz  Sholahuddin dkk (1986:43), bahwa  metode ceramah adalah suatu cara penyampaian bahan pelajaran secara lisan oleh guru di depan kelas atau kelompok.
Sejalan dengan itu pendapat Wina Sanjaya mendefinisikan (2001:147)“ metode ceramah dapat diartikan sebagai cara menyajikan pelajaran melalui penuturan lisan atau penjelasan langsung kepada sekelompok siswa. Sedangkan menurut Syaiful  Bahri Djamarah (2006:97) metode ceramah adalah metode yang boleh dikatakan metode tradisional, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar mengajar, sehingga metode ceramah adalah cara penyajian pelajaran yang dilakukan guru dengan penuturan atau penjelasan lisan secara langsung terhadap siswa.
Dalam metode ceramah ini organisasi kelas sederhana. Dengan ceramah, persiapan satu-satunya bagi pengajar adalah buku catatanya. Pada seluruh jam pelajaran ia berbicara sambil berdiri atau kadang-kadang duduk. Cara ini paling sederhana dalam pengaturan kelas, jika dibandingkan dengan metode yang lain.


b.      Metode Pemberian Tugas

Metode pemberian tugas sering disebut metode pekerjaan rumah adalah metode dimana murid diberi tugas khusus diluar jam pelajaran. Metode pemberian tugas ini mempunyai tiga fase(http://nganjukladang.blogspot.com/209/01/perubahan-dan-metode-mengajar-dalam.html), yaitu:
a.       Fase pemberian tugas
b.      Fase pelaksanaan tugas
c.       Fase mempertanggungjawabkan tugas.
Metode pemberian tugas (Syaiful  Bahri Djamarah:2006:85) merupakan metode penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Masalahnya tugas dapat dilaksanakan oleh siswa dapat dilakukan di dalam kelas, di halaman sekolah, di laboratorium, di perpustakaan, di bengkel, di rumah siswa, atau dimana saja asal tugas itu dapat dikerjakan.
Metode pemberian tugas (Roestiyah N.K:2007:75) adalah merupakan suatu metode mengajar yang diterapkan dalam proses belajar mengajar, yang biasa disebut dengan metode pemberian tugas. Biasanya guru memberikan tugas itu sebagai pekerjaan rumah. Akan tetapi sebenarnya ada perbedaan antara pekerjaan rumah dan pemberian tugas seperti halnya yang dikemukakan : Roestiyah mengatakan : “ Untuk pekerjaan rumah, guru menyuruh membaca dari buku dirumah, dua hari lagi memberikan pertanyaan dikelas. Tetapi dalam pemberian tugas guru menyuruh membaca. Metode pemberian tugas(http://blog.elearning.unesa.ac.id/tag/definisimetodepemberian-tugas-atau-resitasiadalah metode yang menugaskan kepada anak didik untuk mengerjakan sesuatu dengan tujuan memantapkan, mendalami dan memperkarya materi yang sudah dipelajari. Selain ituPemberian tugas (https://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:PTYSO69BtbsJ:blog.tp.ac.id/pdf/tag/pengertian-metode-pemberian-tugas-menurut-paraahli.pdf+definisi+metode+pemberian) merupakan metode yang memberikan kesempatan kepada anak untuk melaksanakan tugas berdasarkan petunjuk langsung yang telah dipersiapkan sehingga anak dapat mengalami secara nyata dan melaksanakan tugas secara tuntas.
Metode ini berarti guru memberi tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Dalam pelaksanaan metode ini siswa dapat mengerjakan tugasnya tidak hanya di rumah, mungkin juga diperpustakaan, di laboraturium, dan sebagainya. Metode ini dapat mengembangkan kemandirian siswa, meransang untuk belajar lebih banyak, membina disiplin dan tanggung jawab siswa, dan membina kebiasaan mencari dan mengolah sendiri informasi.Tetapi dalam metode ini sulit mengawasi mengenai kemungkinan siswa tidak bekerja secara mandiri.
C.      Hakikat Intensitas Asesmen
Penyusunan perencanaan, pelaksanaan proses, dan penilaian merupakan rangkaian program pendidikan yang utuh, dan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.dalam hal ini penilaian dapat juga sebagai Asesmen. Asesmen dibuat untuk mengetahui kemajuan belajar anak dan sebagai teknik pelaporan. Menurut Jamaris Asesmen (Yuliani Nurani Sujiono dan Bambang Sujiono: 2010:200) merupakan  suatu proses kegiatan yang bertujuan untuk mengumpulkan data atau bukti-bukti tentang perkembangan dan hasil belajar yang berkaitan dengan perkembangan anak usia dini.
Asesmen (Anthony J. Nitko: 1996:4merupakan istilah umum yang didefiniksikan sebagai sebuah proses yang ditempuh untuk mendapatkan informasi yang digunakan dalam rangka membuat keputusan-keputusan mengenai para siswa, kurikulum, program-program dan kebijakan pendidikan, metode dan instrumen pendidikan lainnya oleh suatu badan, lemabaga, organsasi dan institusi resmi yang menyelenggarakan suatu aktifitas tertentu.
Linn dan Grounlund (1995:5) menyatakan bahwa asesmen (penilaian) adalah suatu istilah umum yang meliputi prosedur yang digunakan untuk mendapatkan informasi tentang belajar siswa (observasi, rata-rata pelaksanaan tes tertulis) dan format penilaian kemajuan belajar.
Popham (1995:6) mengemukakan pula bahwa asesmen dalam pembelajaran adalah suatu proses atau upaya formal pengumpulan informasi yang berkaitan dengan variabel-variabel penting pembelajaran sebagai bahan dalam pengambilan keputusan oleh guru untuk mempebaiki proses dan hasil belajar siswa.
Asesmen sering pula disebut sebagai salah satu bentuk penilaian, sedangkan penilaian merupakan salah satu komponen dalam evaluasi. Suatu pengukuran yang bersifat kuantitatif dan penilaian yang bersifat kualitatif merupakan bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari asesmen.
Westwood (Marlina:2007:79) mendefinisikan asesmen sebagai proses untuk menentukan dan memahami penampilan individu-individu dan lingkungannya. Selanjutnya Du Paul dan Stoner(Marlina:2007:79) mengemukakan asesmen sebagai proses pengumpulan informasi atau data tentang penampilan individu yang bersangkutan untuk membuat keputusan.
Anak, guru dan orang tua dapat memberi  bantuan belajar yang sesuai sehingga anak dapat belajar secara optimal. Asesmen otentik dilakukan secara terus menerus bersamaan dengan kegiatan pembelajaran. Hasil  karya anak, hasil pengamatan guru dan informasi dari orangtua diperlukan untuk membuat laporan  perkembangan belajar anak. Menurut Brondinsky dalam Decker dan Decker (Yuliani Nurani Sujiono dan Bambang Sujiono: 2010:201) mengemukakan bahwa pelaporan merupakan aspek penting dalam program anak usia dini yang juga melibatkan orang tua agar mereka menjadi lebih bertanggungjawab terhadap perkembangan anaknya.
Asesmen dapat juga disebut penilaian (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan:2006:2), yaitu usaha guru untuk mengetahui tingkat keterlaksanaan program dan keberhasilan anak mencapai kemampuan yang diharapkan. Penilaian keterlaksanaan program terutama digunakan guru untuk memperbaiki Satuan Kegiatan Harian atau Satuan Kegiatan Mingguan sehingga pelaksanaan program berikutnya menjadi lebih baik. Penilaian keberhasilan anak menguasai kemampuan yang diharapkan digunakan sebagai bahan bagi guru untuk menyusun laporan kepada orang tua anak dan memantau perkembangan anak sehingga hasil kegiatan belajar di PAUD lebih optimal.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini termasuk penelitian  Ex Post Facto  karena penelitian ini menguraikan antara suatu variabel dengan variabel lain dimana variabel bebas tersebut telah terjadi dan tidak dilakukan kontrol dan manipulasi. Kerlinger dalam Sevilla dkk (1993:124) mendefinisikan Ex post facto sebagai penelitian yang sistematis dimana peneliti tidak dapat mengontrol langsung variabel bebas karena peristiwanya telah terjadi atau karena menurut sifatnya tidak dapat dimanipulasi. Peneliti tidak memiliki kontrol terhadap variabel bebas yang diteliti sebagaimana dalam penelitian eksperimen.
Variabel penelitian terdiri dari: (1) variabel bebas, (2) variabel atribut dan (3) variabel terikat. Variabel bebas adalah metode mengajar, variabel atribut adalah intensitas asesmen dan variabel terikat adalah hasil belajar siswa. Variabel metode mengajar terdiri dari metode ceramah dan metode diskusi, variabel intensitas asesmen terdiri dari asesmen yang tinggi dan asesmen yang rendahDesain yang digunakan adalah factorial group design dengan 2 faktor (A x B). Konstalasi variabel tersebut di atas, dapat di lihat dalam desain penelitian seperti pada tabel 1 di bawah ini.


Tabel. Rancangan Desain faktorial 2 (A x B)

         Metode Mengajar


Intensitas Asesmen
Metode pemberian tugas
(A1)
Metode ceramah
(A2)
Intensitas Asesmen yang tinggi
(B1)

(A1B1)
(A2B1)
Intensitas Asesmen yang rendah
(B2)
(A1B2)
(A2B2)

Populasi menurut sugiyono (2008:61dijelaskan bahwa: populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya, jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain. Populasi bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek.
Jumlah siswa yang ada di SDN 1 Poasia Kota Kendari adalah 40 siswa yang terdiri dari siswa Kelas I berjumlah 40 orang.
Dari uaraian di atas, maka penulis menetapka  40 orang sebagai sampel. Suharsini Arikunto, (1993:107menyatakan bahwa :” Dalam pengambilan sampel yang apabila sampelnya kurang dari 100, lebih baik diambil semuanya sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10%-15% atau 20%-25% atau lebih”.

HASIL PENELITIAN
Dari seluruh data metode mengajar guru direkapitulasi sesuai dengan masing-masing metode. Selanjutnya dihitung dan dianalisis secara deskriptif untuk melihat merata (mean), median, standar deviasi, varian, skor maksimum, skor minimum, rentang (range) dan jumlah skor.
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan metode analisis varian. Hasil perhitungan mengenai kemampuan metode mengajar guru dan intensitas asesmen dirangkum dalam tabel berikut:




Tabel hasil analisis varians

S. Varians
JK
db
RJK
Fh
Ft α=0,05
Ft α=0,01
Antar metode pemberian tugas dan ceramah
340,31
1
340,31
12,90
3,967
6,981
Antar metode pemberian tugas dan ceramah melalui asesmen yang tinggi
78,40
1
78,40
0,003
4,098
7,353
Antar metode pemberian tugas dan ceramah melalui asesmen yang rendah
297,02
1
297,02
0,0011
4,098
7,353
Intera metode mengajar dan intensitas asesmen
35,11
1
35,11
1,33
3,967
6,981 
Dalam
2005,25
76
26,38



Total
64820,99
79





Tabel. Rangkuman hasil uji homogenitas varians

kelompok
S2
Varians Gabungan
Harga B
X2h
X2t
Kesimpulan
0,05
0,01
A1B1
16,77
26,38
108,2
2,486
7,81
11,3
Homogen
A2B1
25,00
A1B2
30,37
A2B2
33,41
Jumlah
105,54

A.    Pembahasan Hasil Penelitian
1.      Uji Hipotesis Pertama: Hasil belajar siswa bidang studi Pendidikan Agama Islam kelas 1 di SDN 1 Poasia Kota Kendari dengan menggunakan Metode pemberian tugas lebih tinggi dari pada Metode Ceramah.
Hasil perhitungan dengan menggunakan Analisis Varians terhadap skor metode mengajar guru diperoleh hasil nilai Fhitung = 12,90 lebih besar Ftabel = 6,981 untuk taraf signifikan 0,01 (Fhitung = 12,90  > Ftabel = 6,981). Hal ini berarti bahwa Hditolak dan H1diterima. Dengan demikian terdapat perbedaan yang sangan signifikan metode mengajar guru dengan mengunakan metode pemberian tugas dan metode ceramah.
Dilihat dari rerata skor metode mengajar kelompok A, diperoleh bahwa rerata kemampuan metode mengajar guru dengan menggunakan metode pemberian tugas lebih besar dari rerata metode mengajar guru dengan menggunakan metode ceramah (24,05 > 22,8). Dapat diartikan bahwa metode mengajar guru dengan metode pemberian tugas lebih tinggi dari pada metode mengajar guru dengan metode ceramah.
2.      Hasil belajar siswa bidang studi Pendidikan Agama Islam kelas 1 di SDN 1 Poasia Kota Kendari dengan menggunakan Metode pemberian tugas lebih tinggi dari pada Metode Ceramah melalui intensitas asesmen yang tinggi.
Hasil perhitungan dengan menggunakan Analisis Varians terhadap skor metode mengajar guru diperoleh hasil nilai Fhitung = 0,003 lebih kecil Ftabel 4,098 untuk taraf signifikan 0,01 (Fhitung = 0,003 < Ftabel = 4,098). Hal ini berarti bahwa Hditerima dan H1ditolak. Dengan demikian metode pemberian tugas lebih tinggi dari metode ceramah yang melalui intensitas asesmen yang tinggi dinyatakan tidak signifikan, atau dengan kata lain tidak terdapat perbedaan metode pemberian tugas dengan metode ceramah melaui intensitas asesmen yang tinggi.

3.      Hasil belajar siswa bidang studi Pendidikan Agama Islam kelas 1 di SDN 1 Poasia Kota Kendari dengan menggunakan Metode pemberian tugas lebih tinggi daripada Metode Ceramah melalui intensitas asesmen yang rendah.
Hasil perhitungan dengan menggunakan Analisis Varians terhadap skor metode mengajar guru diperoleh hasil nilai Fhitung = 0,0011 lebih kecil Ftabel = 4,098 untuk taraf signifikan 0,01 (Fhitung = 0,0011 < Ftabel = 4,098). Hal ini berarti bahwa Hditerima dan H1ditolak. Dengan demikian metode pemberian tugas lebih tinggi dari metode ceramah melalui asesmen yang rendah dinyatakan tidak signifikan, atau dengan kata lain tidak terdapat perbedaan metode pemberian tugas dengan metode ceramah melalui intensitas asesmen yang rendah.

4.      Terdapat pengaruh interaksi metode mengajar dan asesmen terhadap Hasil belajar siswa bidang studi Pendidikan Agama Islam kelas 1 di SDN 1 Poasia Kota Kendari.
Hipotesis keempat adalah menguji interkasi AB yaitu interkasi metode pemberian tugas maupun metode ceramah dengan intensitas asesmen, baik asesmen portofolio dan asesmen kinerja terhadap hasil belajar siswa. Dari tabel analisis varians di atas diperoleh bahwa Fhitung = 1,33 lebih kecil Ftabel = 6,981 untuk taraf signifikan 0,05 (Fhitung = 1,33 < Ftabel = 6,981). Hal ini dapat disimpulkan bahwa Hditerima dan H1 ditolak. Dengan demikian tidak terdapat pengaruh interaksi metode mengajar guru dan intensitas asesmen terhadap hasil belajar siswa kelas 1 SDN 1 Poasia Kota Kendari.

KESIMPULAN
Berdasarkan dari hasil perhitungan pada pengujian hipotesis penelitian dapat disimpulkan bahwa :
Pertama, hasil belajar siswa dengan menggunakan metode pemberian tugas lebih besar dari hasil belajar siswa dengan menggunakan metode ceramah sangat signifikan. Hal ini ditunjukan oleh nilai Fhitung lebih besar Ftabel pada taraf signifikansi 0,01 (Fhitung = 12,90  > Ftabel = 6,981).
Kedua, hasil belajar siswa dengan menggunakan metode pemberian tugas lebih tinggi dari hasil belajar siswa dengan menggunakan metode ceramah melalui intensitas asesmen yang tinggi dinyatakan tidak signifikan. Hal ini ditunjukan oleh nilai Fhitung lebih kecil Ftabel pada taraf signifikansi 0,01 (Fhitung = 0,003 < Ftabel = 4,098).
Ketiga, hasil belajar siswa dengan menggunakan metode pemberian tugas lebih tinggi dari hasil belajar siswa dengan menggunakan metode ceramah melalui intensitas asesmen yang rendah dinyatakan tidak signifikan. Hal ini ditunjukan oleh nilai Fhitung lebih kecil Ftabel pada taraf signifikansi 0,01 (Fhitung = 0,0011 < Ftabel = 4,098).
Keempat, tidak terdapat interaksi metode mengajar dan intensitas asesmen guru terhadap hasil belajar siswa kelas 1 SD. Hasil diperoleh melalui pengujian hipotesis yang menunjukan Fhitung lebih kecil Ftabel pada taraf signifikansi 0,05 (Fhitung = 1,33 < Ftabel = 6,981).
Berdasarkan hasil temuan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa:
  1. Hasil belajar siswa dengan menggunakan metode pemberian tugas lebih tinggi dibandingkan dengan metode ceramah di Sekolah Dasar Negeri 1 Poasia Kota Kendari.
  2. Hasil belajar siswa dengan menggunakan metode pemberian tugas tidak berbeda dengan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode ceramah melalui intensitas asesmen yang tinggi.
  3. Hasil belajar siswa dengan menggunakan metode pemberian tugas tidak berbeda dengan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode ceramah melalui intensitas asesmen yang rendah.
Interaksi metode mengajar dan intensitas asesmen tidak berpengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas 1 di Sekolah Dasar Negeri 1 Poasia Kota Kendari.
Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian di atas, bahwa tidak terdapat pengaruh interaksi metode mengajar terhadap hasil belajar siswa dengan mempertimbangkan intensitas asesmen memberikan implikasi secara teoritik bahwa perbedaan metode mengajar dengan keterbatasannya  tidak berpengaruh secara signifikan ketika berinteraksi dengan intensitas asesmen. Hasil belajar siswa tidak semata-mata dipengaruhi oleh intensitas asesmen guru atau seringnya guru melakukan asesmen namun dapat dipengaruhi oleh kemampuan atau faktor lain misalnya motivasi, kreativitas, stimulus lingkungan, pola asuh orang tua dan media pembelajaran. Perbedaan tingkat asesmen yang dimiliki dalam metode mengajar baik metode pemeberian tugas dan metode ceramah tidak lebih kuat dibandingkan dibandingkan pengaruh perbedaan metode mengajar dalam menentukan tingkat hasil belajar siswa. Metode pemberian tugas bisa membuat anak cenderung ekspresif dan aktif dalam proses belajar mengajar dibandingkan metode ceramah jika kedua metode tersebut memiliki tingkat asesmen yang sama-sama tinggi.
A.          SARAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut:
1.      Bagi guru.
a.       Diharapkan setiap guru yang menerapkan metode pemberian tugas idealnya setelah memberikan tugas kepada siswa, seharusnya dijelaskan kembali kepada siswa dimana kesalahan dari tugas tersebut.
b.      Hendaknya setiap guru kelas dan guru bidang studi kelas 1 membiasakan melakukan latihan-latihan pada anak untuk mengembangkan hasil belajar siswa, dimulai sejak membuat rencana pembelajaran untuk kegiatan harian di kelas.
c.       Diharapkan guru dapat mendengarkan dan menghormati setiap bentuk pendapat siswa serta menjalin kerja sama dengan baik selama proses pembelajaran di kelas.
d.      Diharapkan guru dapat membuat ragam latihan dan metode yang sesuai dengan karakteristik siswa tanpa harus membedakan latar belakang status sosial ekonomi siswa.
e.       Diharapkan guru mengoptimalkan sarana yang ada sebagai media dan alat pembelajaran dalam rangka mengembangkan hasil belajar siswa.
f.       Pengembangan hasil belajar siswa membutuhkan seorang guru profesional yang memiliki kompetensi khusu untuk anak kelas 1, sehingga mampu menyelenggarakan pembelajaran pada anak kelas 1 SD dengan baik. Diharapkan guru kelas 1 SD memiliki bekal kompetensi tersebut dan mendalami pembelajaran pada kelas-kelas tersebut.

2.      Bagi orang tua
Diharapkan orang tua siswa dapat bekerja sama dengan guru di sekolah dalam upaya peningkatan hasil belajar anaknya. Sehingga anak dapat belajar di sekolah dan di rumah, sebagai orang tua harus bisa memberikan stimulus kepada anaknya untuk bisa belajar dengan baik di rumah. Proses belajar di rumah harus dirancang  sehingga anak dapat belajar dengan tenang dan tidak membosankan.
3.      Peneliti
Untuk kesempurnaan penelitian ini, disarankan kepada peneliti lain untuk mengadakan penelitian lanjutan terutama tentang variabel lain yang berkaitan.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu dan Joko Tri Prasetya, Strategi Belajar Menagajar, Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997
Al-Rasyiddin & Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2005
Ann, Jo, Brewer, Introduction to Early Childhood Education: preschool through primary grades, USA: Pearson Education, Inc, 2007.
Arief, Armai, Pengantar dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Pers, 2002
Arifin, MuzayyidFilsafat Pendidikan Islam,  JakartaPT Bumi Aksara, 2003.
Arikunto, Suharsini, Prosedur Penelitian cet. Ke IX, , Rineka Cipta, Jakarta, 1993
B, Syaiful Djamarah dkk, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2006
B, Syaiful, Djamarah dkk, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2002
Basyirudin, M. Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta: Ciputat Pers, 2002
Beyer, Social Studies Grade Ten, http://edserv.asknet.sk.ca/ docs/tensoc /g10effec.html.,
Catharana, Anni, Tri, Psikologi Belajar, Semarang : Unnes Press, 2004
Collison, J, Using Performance Assessment to Determine Mathematical Disposition,Aritmetics Teacher. Vol. 39 (6), 1992
Danim, Sudarwan, Agenda Pembaruan Sistem Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003
DEPDIKBUD, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1990
Dimyati & Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2010
Djaali, Muljono, Ramly, Pengukuran Dalam Bidang Pendidikan Jakarta : Pascasarjana UNJ, 2003
Eisele, Beverly, Managing The Whole Language Classroom, CA: Creative Teaching Press,Inc.,1991
G, Consuelo. Sevilla dkk, Pengantar Metode Penelitian, Terj Alimuddin Tuwu Jakarta : UI-Press, 1993
Hamalik, Oemar, Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara, 2009
Harjodipuro, Siswojo, Performance Based Education, (komgbikipjkt@cnb.net.id)
Hasan, Chalijah, Dimensi-Dimensi Psikologi Pendidikan, SurabayaAl-Ikhlas,1994
Hasan, Hamid dan Aziz Wahab, Evaluasi Hasil Belajar PMP  Jakarta Karunika UT, 1986
https://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:PTYSO69BtbsJ:blog.tp.ac.id/pdf/tag/pengertian-metode-pemberian-tugas-menurut-para-ahli.pdf+definisi+metode+pemberian
J. Anthony, Nitko, Educational Assessment Of Students, New Jersey/Columbus, Ohio: Merril, an Imprint of Prentice Hall, 1996
J. Leslie, Briggs (ed), Instructional Design: Principles and Applications, Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall,Inc, 1979
J. Marjorie, Kostelnik dkk.,Developmentally Appropriate Curriculum, New Jersey: Pearson Education Inc.,2007
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Model penilaian Kelas, Jakarta:Depdiknas.,2006
L. Roberd, Linn dan Grounlund, Measurement and Asessmen in teaching, New Jersey/Colombus, ohio: Merril, an Imprint of prentice Hall Education, 1995
M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta:  Bumi Aksara, 1995
Marjorie, Kostelnik dkk.,Developmentally Appropriate Curriculum, New Jersey: Pearson Education Inc.,2007 (372, 19 Kos d)
Muhaimin, Strategi Belajar Mengajar (Penerapannya dalam Pembelajaran Pendidikan Agama), Surabaya: Citra Media, 1996,
Mulyana, Edi dkk, Penggunaan Performance Asseeement Untuk meningkatkan Produktivitas Kegiatan Kelompok Mahasiswa Dalam Perkuliahan Pendidikan IPA, Studi Penelitian Tindakan Kelas di PGSD UPP3 Tasikmalaya, Laporan Penelitian Lembaga penelitian IKIP Bandung, 1998
Muslich, Masnur, KTSP, Jakarta: Bumi Aksara, 2007
N.K, Roestiyah,  Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta, 2007
Nata, Abuddin, Manajemen Pendidikan, Bogor: Prenada Media, 2003
Nurani, Yuliani Sujiono dan Bambang Sujiono, Bermain Kreatif Berbasis  Kecerdasan Jamak, Jakarta: PT. Indeks, 2010
Sanjaya, Wina, Strategi PembelajaranJakarta: Ciputat Pers, 2002
Sholahuddin, Mahfuz dkk., Metodologi Pendidikan Islam, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1986
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Jakarta : Rineka Cipta, 2010
Soehartono,Irawan,  Metode Peneletian Sosial, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999
Soekartawi. Monitoring dan Evaluasi Pendidikan, Jakarta, Dunia Pustaka Jaya, 1995
Subana, M & Sunarti,  Strategi Belajar Mengajar, Bandung: Pustaka Setia,1999
Sudjana, Nana,  Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010
Sugiyono, Statistika Untuk Penelitian, Bandung: Alfabeta, 2008
Suryabrata, Sumadi,  Psikologi Pendidikan,  Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005
Uzer, Usman & Lilis Setiawati, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993
W. Popham,James, Clasroom Assessment: What Teacher Need to Know, Los Angeles: Allyn and Bacon, 1995
Winkel, Psikologi Pengajaran, Jakarta : Grasindo, 1999

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar