Sabtu, 26 Mei 2012

Home » Gempa dan Tsunami di Sumatera

Gempa dan Tsunami di Sumatera


Potensi tsunami akibat gempa berkekuatan 8,5 Skala Richter di Aceh (BMKG)

Tujuh wilayah di Sumatera Barat diminta waspada dan siaga menghadapi gempa dan tsunami hingga 30 Juni mendatang. Bagaimana persiapan provinsi ini menghadapi bencana yang disebut dampak dari gempa Aceh, beberapa waktu lalu?

Peringatan dini tersebut dimuat dalam surat Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno tanggal 27 April 2012. Koordinator Pusat Pengendali Operasi Penanggulangan Bencana Sumbar, Ade Edward, menjelaskan bahwa surat edaran gubernur ini muncul pasca rapat terbatas Presiden 16 April 2012, usai gempa Aceh.

“Jadi, tidak hanya Sumbar yang diberitahu, semua daerah diberitahu,” ujar Ade Edward.

Surat edaran gubernur dinilainya sebagai imbauan bagi sejumlah daerah di pesisir pantai untuk membangun kesiapsiagaan.

Pemerintah daerah diimbau untuk menginventarisasi segala macam kebutuhan untuk menghadapi bencana yang dalam kebijakan anggaran belum terakomodasi.

“Dalam dua bulan ini, kami akan menginventarisasi berapa shelter yang dibutuhkan, jalur evakuasi seperti apa, kebutuhan sirine tsunami berapa unit, termasuk protap sirine tsunami,” tambah Ade.

Ia membantah bahwa surat edaran gubernur ini berkaitan dengan adanya gempa besar yang akan terjadi di Sumbar. Secara ilmiah, tegasnya, ilmuwan belum mampu memprediksi secara tepat kapan gempa akan muncul.

Untuk diketahui, pasca gempa Aceh 8,5 SR dan 8,1 SR pada 11 April 2012, sejumlah prediksi bermunculan. Sejumlah pakar tidak semuanya sepakat bahwa gempa tersebut bisa mempengaruhi terjadinya gempa besar di Sumbar.

Menurut pakar Paleotsunami Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Eko Yulianto, hal itu belum tentu terjadi. “Kemungkinannya 50:50. Mungkin mempercepat atau tidak mempercepat,” kata dia ketika dihubungi VIVAnews, Kamis 12 April 2012.

Eko menyebut, lokasi adalah penentunya. Gempa saat itu terjadi di interpolate, sedangkan gempa yang akan terjadi di megathrust, pertemuan antar lempeng Indo-Australia dan Eurasia.

Menurut dia, prediksi gempa Mentawai kali pertama disampaikan ilmuwan pada 2003, sebelum gempa dan tsunami Aceh, Pangandaran, Bengkulu.

Untuk Indonesia, yang dikelilingi "Cincin Api Pasifik" atau Ring of Fire, bencana alam adalah sebuah keniscayaan, hanya tak diketahui pasti kapan akan datang. Untuk itulah, menurut Eko, masyarakat harus bersiap menyambut bencana. 



sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar