Selasa, 23 Juli 2013

Sakit Kepala, Tanda Tubuh Kurang Cairan


shutterstock

KOMPAS.com - Ada banyak hal berbeda yang menyebabkan seseorang mengalami sakit kepala seperti perubahan tiba-tiba dalam diet (makan), terlalu banyak tidur, stres, jam kerja yang lama, lupa makan, mabuk, menonton TV di kamar gelap atau menggunakan komputer untuk waktu yang lama tanpa istirahat. Tetapi, banyak orang tidak menyadari bahwa sakit kepala sebenarnya adalah gejala dari dehidrasi.

Selain oksigen, air merupakan elemen terpenting yang diperlukan untuk kelangsungan hidup manusia. Kita dapat bertahan hidup tanpa makan selama hampir dua bulan, tetapi tanpa air mungkin hanya beberapa hari saja. Kebanyakan orang tidak tahu berapa banyak kebutuhan air yang harus mereka dapatkan. Bahkan, banyak diantaranya yang hidup dalam keadaan dehidrasi.

Air adalah kunci kehidupan, baik di bumi dan bagi tubuh manusia. Sama seperti bumi, dimana 70 persennya merupakan air dan 30 persen tanah, tubuh manusia adalah versi miniatur dari itu.

Dehidrasi merupakan kondisi hilangnya air dan elektrolit seperti sodium, klorida dan kalium, yang diperlukan bagi tubuh untuk menjalankan fungsinya dan baik untuk kesehatan. Penyebab utama dehidrasi umunya karena seseorang tidak minum cukup air.

Sakit kepala tidak dapat sembuh dengan sendirinya. Sakit kepala adalah tanda yang memberitahu kita bahwa ada sesuatu yang salah, namun tubuh kita tidak selalu memberikan sinyal yang jelas dan memberitahu apa yang kita harus dilakukan. Ketika tubuh sedang dehidrasi, kita tidak selalu merasa haus, tapi paling sering adalah sakit kepala.

Kebanyakan orang dewasa memerlukan antara sekitar 2 liter air atau lebih setiap hari tergantung dari aktivitas, berat dan tinggi badan, serta gaya hidup. Namun, rekomendasi selama ini menganjurkan, untuk memenuhi kebutuhan cairan, seseorang harus minum minimal delapan gelas sehari.

Jadi, jika Anda mengalami sakit kepala, cobalah minum air sampai rasa sakit di kepala Anda hilang. Karena ia akan bekerja bak ramuan ajaib.

Sumber :
the times of india
Read More >>

Tingkatkan Kerja Otak dengan Segelas Air


Kompas.com - Daya pikir mendadak buntu atau sulit berkonsentrasi? Minum segelas air mungkin bisa menjadi solusi yang tepat. Menurut sebuah studi, minum air bisa mempertajam kerja otak, terutama jika Anda sedang haus.

Para peneliti dari University of East London percaya, ketika rasa haus teratasi, otak siap fokus dan mengerjakan tugas. Air membebaskan bagian otak yang terus menerus memberikan sinyal haus pada tubuh.

Hasil ini didapat setelah meneliti 34 pria dan wanita pada dua kali uji mental. Uji pertama dilakukan setelah sarapan sereal bar. Uji kedua dilakukan setelah sereal diganti sebotol air. Para responden tidak ada yang makan atau minum sepanjang malam. Responden juga ditanya bagaimana rasa haus mendera saat awal penelitian.

Responden yang mengatakan tidak haus lebih cepat menyelesaikan tes dengan atau tanpa air. Namun responden yang merasa haus, lebih cepat menyelesaikan tes ketika sudah minum. Peningkatan kecepatan otak setelah minum air sekitar 14 persen.

Peneliti Caroline Edmonds mengatakan, tentu tidak akan merepotkan bila minum ketika tengah bekerja. Termasuk teh atau kopi. Anak-anak yang minum air sebelum tes juga memberikan hasil 3 kali lebih baik.

Hasil penelitian itu tak jauh berbeda dengan studi lain dengan topik yang sama. Diketahui kurang minum air membuat sel abu-abu otak mengerut. Akibatnya otak sulit berfikir.

Peneliti melakukan scan pada remaja setelah bersepeda satu setengah jam. Sebagian remaja melakukannya dengan 3 lapis pakaian dan sebagian yang hanya mengenakan celana pendek dan kaos.

Remaja yang berpakaian tumpuk kehilangan satu liter keringat. akibatnya sel otak banyak yang mengerut. Berkeringat 90 menit ternyata menyebabkan otak berkerut sebanyak proses penuaan setahun. Namun setelah minum segelas air, aktivitas kedua otak kembali normal.

Tapi konsumsi air tidak selalu menunjukkan hasil baik. Pada penelitian Edmonds yang terbaru, para responden tidak bisa mengerjakan tes mental manipulasi yang cukup kompleks meski sudah minum air. Mengenai hal itu belum diketahui dengan jelas penyebabnya.

Sumber :
Read More >>

Puasa Mencegah Penyakit Kronis



KOMPAS.com - Data survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2004 menunjukkan, berbagai faktor risiko untuk terjadinya penyakit jantung koroner dan penyakit stroke meningkat pada masyarakat. Hasil survey tersebut menunjukkan, terjadi peningkatan gaya hidup tidak sehat pada masyarakat Indonesia yaitu kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, makan tidak seimbang, kegemukan, diet rendah serat/kurang buah dan sayur serta mengkonsumsi makanan tinggi kalori serta makanan tinggi lemak hewani. Tentu kondisi ini harus diantisipasi oleh kita semua. Puasa Ramadhan bagi masyarakat muslim merupakan kesempatan untuk memperbaiki kondisi gaya hidup yang tidak sehat ini.

Kenapa puasa memperbaiki gaya hidup tidak sehat?

Puasa Ramadhan yang dilaksanakan masyarakat muslim merupakan suatu keadaan yang secara medis dikenal sebagai Prolonged Intermittent Fasting. Puasa adalah pengaturan makan dimana biasanya kita makan 3 kali menjadi 2 kali dengan jarak antara 2 makan sekitar 14 jam yaitu tidak menkonsumsi makan dan minum mulai dari sahur sampai dengan berbuka.

Dengan pengaturan makan ini, akan terjadi pengurangan asupan makan atau asupan kalori. Dengan mengurangi makan terjadi penurunan asupan kalori, asupan lemak juga berkurang. Asupan lemak yang berkurang akan juga mengurangi asupan kolesterol. Jika seseorang berpuasa dengan baik mustinya parameter laboratorium akan membaik.

Kolesterol total, trigliserida akan menurun. Begitu pula kolesterol jahat (LDL) juga akan menurun. Kadar asam urat mustinya juga menurun, begitu pula bagi orang yang memang sudah menderita gula darah tinggi, mustinya gula darahnya juga terkontrol. Berbagai penelitian pada penduduk yang berpuasa melaporkan penurunan kadar LDL dan meningkatnya kadar HDL. Hal ini jelas positif untuk pencegahan penyakit kardiovaskuler. Hal ini tidak terwujud kalau kita menerapkan budaya balas dendam saat berbuka dengan mengonsumsi makan secara berlebih-lebihan.

Selama melaksanakan puasa Ramadhan, seharusnya juga bagi seorang perokok dapat mengurangi konsumsi rokok. Selama puasa, para perokok bisa berpuasa untuk tidak merokok, karena merokok membatalkan puasa. Para perokok dapat menahan diri untuk tidak merokok selama 14 jam. Setelah waktu berbuka sampai sahur, perokok pun harus melakukan aktivitas sholat wajib dan sholat tarawih dan juga perlu tidur, sehingga otomatis mereka pasti akan mengurangi rokok.

Selama Ramadhan, aktivitas sehari-hari sebaiknya tetap dilakukan. Tidur sepanjang hari dengan alasan berpuasa tidak dianjurkan, baik secara medis maupun secara agama. Selama puasa Ramadhan selain melaksanakan ibadah wajib, masyarakat yang melaksanakan puasa tetap dianjurkan untuk menambah ibadah sunat termasuk sholat. Malam hari diisi oleh sholat tarawih ada yang 11 raka'at ada yang 23 rakaat.

Konsumsi sayur dan buah-buahan dianjurkan saat buka dan sayur-sayuran. Menu yang dianjurkan saat berbuka adalah jus buah dan konsumsi kurma dan tetap juga mengonsumsi sayur-sayuran saat makan berbuka dan saat sahur. Buah-buahan dan sayur-sayuran mengandung serat, mineral, vitamin,anti oksidan dan karbohodrat kompleks, untuk kacang-kacangan bahkan juga mengandung protein nabati.

Akhirnya, dengan berpuasa kita bisa mengatur makan kita, mengurangi konsumsi karbohidrat dan lemak, mengurangi rokok bagi yang merokok, tetap melakukan aktifitas dan meningkatkan konsumsi sayur dan buah-buahan. Rangkaian aktivitas sehat ini akan membuat tubuh kita sehat dan terhindar dari berbagai penyakit degeneratif seperti stroke, sakit jantung dan obesitas.

Salam Sehat

sumber
Read More >>

Berbuka dengan yang Manis Itu Merusak Kesehatan

JAKARTA, KOMPAS.com - Berbukalah dengan yang manis, sering disampaikan, bahkan ada yang memandangnya ini sunnah Nabi. Namun banyak yang salah mengartikan. Akibatnya bukan sehat yang didapat.

Riwayat menyebutkan Rasulullah berbuka dengan rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat. Jika tidak terdapat rutab, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Jika tak ada tamr, beliau meneguk air.
Pertanyaannya, apakah sama antara kurma dengan makanan yang manis-manis lainnya yang biasa disantap saat berbuka puasa? Pramono, ahli gizi dari Banjarmasin, menegaskan, ini tidak sama.
Kurma adalah karbohidrat kompleks (complex carbohydrate). Sebaliknya, gula yang terdapat dalam makanan atau minuman manis yang biasa kita konsumsi adalah karbohidrat sederhana (simple carbohydrate).

"Pendapat umum bahwa berbuka puasa harus makan dan minum yang manis seakan-akan adalah sunnah Nabi. Sebenarnya tidak demikian. Bahkan sebenarnya berbuka puasa dengan makanan manis-manis yang penuh dengan gula (karbohidrat sederhana) justru merusak kesehatan," jelas Pramono.
Ketika berpuasa, kadar gula darah kita menurun. Nah, jika kita makan yang manis-manis, kadar gula darah akan melonjak naik, langsung. Menurut Pramono, hal ini sangat tidak sehat.

Kurma, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, adalah karbohidrat kompleks, bukan gula (karbohidrat sederhana). Untuk menjadi glikogen, karbohidrat kompleks memerlukan perlu proses yang lama. Dengan demikian, kadar gula tidak langsung membuat kadar gula melonjak secara drastis.
Jadi, hati-hatilah memilih makanan manis sebagai menu pembuka puasa...

Read More >>

Rahasia Berpuasa Penuh Energi


Kompas.com- Berpuasa dengan penuh energi bukanlah hal yang mustahil. Kuncinya ada pada pemilihan asupan yang tepat saat sahur dan berbuka puasa. Makanan yang tidak tepat bisa membuat gula darah cepat turun sehingga tubuh menjadi lemas.

Menurut dr.Phaidon Toruan, corporate health trainer, rasa lemas saat berpuasa merupakan efek berkurangnya karbohidrat akibat jumlah asupan makanan yang berkurang. Akibatnya gula darah cenderung menjadi lebih rendah dan tubuh terasa tidak berenergi. Penyebab lain adalah berkurangnya masukan cairan saat puasa. Hilangnya cairan akan perlahan membuat tubuh terasa lebih lemas.

Untuk menghindari lemas, Phaidon memberikan jenis asupan yang sebaiknya dihindari dan ditambah ketika berpuasa.

Asupan yang dihindari
1. Pemanis sintesis
Pemanis ini biasanya terdapat di sirup, gula, roti, dan tepung. Pemanis ini menyebabkankan gula darah berfluktuasi. Setelah mengkonsumsi pemanis buatan, gula darah cepat naik tapi juga menurun dalam waktu singkat. Akibatnya, energi lekas menghilang dan rasa lemas datang. Phaidon menyarankan konsumsi gula alami seperti gula aren dan stevia yang meningkatkan gula darah dalam waktu lama.

2. Gorengan
Gorengan sebetulnya merupakan musuh saat puasa. "Gorengan ini yang menyebabkan kita ngantuk dan lemas saat puasa," kata dokter yang aktif di twitter dengan akun @dr_Phaidon ini. Menurutnya, gorengan mengikat oksigen dalam tubuh hingga 20 persen sehingga tubuh kekurangan oksigen dan lemas sepanjang hari.

Asupan yang ditambah
1. Sayur dan buah
Konsumsi serat alami akan menggantikan elektrolit dan suplai vitamin bagi tubuh. Elektrolit yang hilang akan cepat terganti, sementara kandungan vitamin akan membuat tubuh lebih kuat dan tidak rentan penyakit. Asupan buah dan sayur akan membuat tubuh lebih sehat, segar, dan berenergi.

2. Suplemen
Suplemen multivitamin-mineral dan asam lemak esensial juga sebaiknya dikonsumsi. Terutama pada orang yang kekurangan asupan buah dan sayur. Phaidon mengatakan, suplemen adalah 'asuransi kesehatan' yang membantu tubuh tetap sehat selama puasa. "Namun ingat tetap harus dibarengi pola makan yang tepat," tegasnya.

Phaidon juga mencontohkan menu selama berpuasa supaya tubuh terasa bugar dan tidak lemas.

1. Sahur
Ketika sahur pastikan mengkonsumsi karbohidrat komplek, sayur dan buah, dan menghindari gorengan. Karbohidrat komplek, seperti roti gandum atau pasta mengandung serat lebih tinggi sehingga melepaskan energi dalam waktu yang lama. Hal ini memungkinkan pelaku puasa tidak kekurangan energi di siang hari.  "Bila tidak sempat makan sahur pastikan tetap minum air putih dan makan buah," kata Phaidon.

2. Buka puasa
Pastikan tetap tanpa karbohidrat sederhana dan menghindari gorengan. Berikut contoh menunya
Takjil/buka puasa:
- Bubur kacang hijau, ketan, gula aren
- Kolak pisang, ubi, gula aren

Menu makan malam:
- Nasi merah, ayam bakar, tempe bakar
- Nasi merah, soto ayam, tahu

sumber
Read More >>

Iklan yang Menyesatkan Selama Ramadhan



Selama puasa Ramadhan, tayangan iklan TV diwarnai oleh promosi obat mag serta promosi makanan dan minuman yang dihubungkan dengan aktivitas puasa Ramadhan masyarakat.

Momen puasa tidak akan dilewatkan oleh produk-produk yang diyakini kebutuhannya akan meningkat di tengah masyarakat. Sebagai seorang pengajar, peneliti, dan praktisi kesehatan, saya sangat menyayangkan iklan yang tendensius dan terlalu berlebihan, bahkan cenderung membohongi masyarakat. Pemerintah, dalam hal ini Badan Pengawasan Obat Makanan (BPOM), harusnya juga jeli dan mempermasalahkan iklan yang menyesatkan untuk masyarakat.

Promosi obat mag, dalam hal ini yang kandungannya antasida, sudah kebablasan seolah-olah produk ini untuk mencegah agar masyarakat tidak mengalami gangguan lambung selama berpuasa. Padahal, obat ini digunakan hanya untuk mengurangi keluhan lambung dan bukan untuk mencegah orang untuk menderita sakit mag karena berpuasa.

Wajar, karena dipromosi sebagai obat untuk mencegah sakit mag selama puasa, pembelian obat-obat mag ini sangat tinggi saat bulan Ramadhan.

Secara teori, mestinya kebutuhan obat mag akan menurun selama Ramadhan. Hal ini karena selama menjalani puasa Ramadhan terjadi keteraturan dalam mengonsumsi makanan, pengurangan konsumsi camilan yang tidak sehat untuk lambung, pengurangan konsumsi rokok, dan yang terpenting adanya pengendalian diri selama puasa Ramadhan. Hal inilah yang menyebabkan pasien dengan sakit mag akan lebih nyaman, bahkan merasa sembuh saat puasa Ramadhan. Jadi, seharusnya konsumsi obat mag ditengah masyarakat seharusnya juga menurun. Kenapa hal ini tidak terjadi?

Saya melihat bahwa hal ini berhubungan dengan iklan yang menganjurkan konsumsi obat mag yang mengandung antasida untuk pencegahan. Antasida sebenarnya hanya diberikan jika ada keluhan karena antasida sendiri bersifat menetralkan asam lambung yang terjadi sehingga akan dapat mengurangi keluhan pasien. Oleh karena itu, tidak benar promosi atau iklan obat sakit mag yang menganjurkan minum obat mag untuk pencegahan agar tidak mengalami gangguan mag.

Antasida sendiri sebenarnya dapat menimbulkan efek samping jika tidak digunakan dengan benar. Antasida yang beredar di tengah masyarakat bisa mengandung alumunium, magnesium, atau kalsium. Antasida dapat menyebabkan seseorang menjadi sembelit sehingga membuat pencernaannya menjadi tidak nyaman.

Belum lagi efek samping pada ginjal dari penggunaan antasida yang tidak sesuai dengan aturan. Oleh karena itu, saya berharap masyarakat lebih cerdas dalam melihat iklan-iklan di TV dan tidak otomatis mengikuti anjuran-anjuran dari iklan-iklan tersebut.

Minuman isotonik

Produk lain yang saya amati juga sudah kebablasan adalah anjuran untuk mengonsumsi minuman isotonik saat sahur dan berbuka. Minuman isotonik sendiri adalah minuman yang ditambahkan gula dan elektrolit. Iklan yang muncul juga menganjurkan untuk mengonsumsi produk tersebut agar terhindar dari kekurangan elektrolit saat berpuasa.

Minuman isotonik sendiri sebenarnya kita konsumsi kalau memang kita membutuhkan, misalnya saat kita berkeringat atau saat berolahraga, dan tentu tidak pada saat kita habis bangun tidur seperti saat sahur.

Larutan isotonik sendiri mengandung gula dan elektrolit, terutama garam atau natrium. Oleh karena itu, kita harus memperhitungkan bahwa dengan mengonsumsi produk isotonik ini akan terjadi penambahan konsumsi gula dan garam.

Bagi orang obesitas atau penderita kencing manis, penambahan gula harus diperhitungkan karena jika tidak akan menyebab orang yang obesitas akan semakin gemuk dan orang dengan penyakit kencing manis gula darahnya menjadi tidak terkontrol. Begitu pula bagi seseorang yang menderita hipertensi tambahan garam dari larutan isotonik ini juga harus diperhitungkan.

Saya masih ingat tahun lalu pasien saya mengalami peningkatan tekanan darah akibat mengonsumsi produk isotonik ini secara berlebihan. Pengakuan yang bersangkutan, saat itu kenapa mengonsumsi larutan isotonik secara berlebihan akibat terpengaruh oleh iklan larutan isotonik tersebut. Selain itu, ada juga pasien yang mengalami peningkatan kadar gula darah akibat mengonsumsi larutan isotonik tersebut juga secara berlebihan. Saya menganjurkan sebaiknya selama puasa ini kita lebih baik mengonsumsi air putih saja dan menghindari produk-produk isotonik ini jika kita tidak membutuhkan.

Demikian informasi ini, mudah-mudahan masyarakat kita lebih kritis untuk mendengar dan melihat iklan-iklan yang ada dan jangan otomatis mengikuti pesan-pesan yang ada. Bagi masyarakat yang memang sudah mempunyai permasalahan kesehatan, sebaiknya konsultasi dulu dengan dokter sebelum mengonsumsi produk-produk tersebut.


Salam sehat,

Ari Fahrial Syam
@dokterari

sumber
Read More >>